Social Icons

Tuesday, September 10, 2013

                               Tugas Wawancara Ane
 

( Pada suatu siang yang cuacanya cukup panas , Anton sedang mencari tukang bakso yang ingin ia wawancarai untuk tugas Bahasa Indonesia . Akhirnya ia menemui seorang pedagang . Anton pun mendekatinya dan menyapanya .. )
Anton : Selamat siang , pak .
Pedagang : Selamat siang , dik . Ada apa ya ?
Anton : Bolehkah saya mewawancarai bapak sebentar untuk tugas sekolah ?
Pedagang : Oh , tentu saja boleh dik . Silahkan saja !
Anton : Oke deh kalau begitu . Hmm , nama bapak siapa ?
Pedagang : Nama saya Yanto , dik .
Anton : Nama panjangnya pak kalau boleh tahu ?
Pedagang : Bapak Haryanto .
Anton : Oh , sudah ? Hanya itu nama panjangnya ? Tidak ada nama belakangnya lagi pak ? Hahaha .
Pedagang : Tidak ad dik . Cuma itu saja . Hahaha ada ada saja kamu , dik .
Anton : Oh , haha . Hmm , profesi bapak apa yah ?
Pedagang : Yehh si adik ini . Bapak jelas jelas berjualan bakso , kok masih ditanya lagi . Hahaha .
Anton : Hahaha . Oh iya ya lupa pak . Hehehe . Bapak terakhir sekolah sampai jenjang apa pak ?
Pedagang : Maksudnya dik ?
Anton : Hmm , maksudnya bapak itu terakhir sekolah , sampai kelas berapa , pak ?
Pedagang : Oh , saya cuma lulusan SD , dik .
Anton : Oh , kenapa tidak diteruskan sekolahnya , pak ?
Pedagang : Yahh , dik . Namanya juga tidak ada biayanya . Mau gimana lagi .
Anton : Oh , gitu yah . Hmm , bapak sekarang umurnya berapa ?
Pedagang : Umur saya sekarang 51tahun , dik .
Anton : Oh , sudah tua yah pak . Hehehe . Kok masih kuat berjualan , pak ?
Pedagang : Masih dong . Hahaha . Umur boleh tua , tapi stamina bapak masih seperti anak muda . Hehehe .
Anton : Hahaha , dasar si bapak ini . Hmm , Bapak asalnya dari mana ?
Pedagang : Saya asli Kalimantan Selatan , dik .
Anton : Oh , kenapa memilih pindah ke Jakarta , pak ?
Pedagang : Yah , orang orang kan sering mengatakan kalau pindah ke Jakarta , kehidupan kita bisa lebih membaik , mendapatkan uang lebih banyak gitu , dik . Bapak juga ke Jakarta karena di Kampung , saya tidak ada pekerjaan . Hanya menganggur saja di rumah , semacam pengacara , dik , pengangguran banyak acara . Hehehe .
Anton : Oh , kenapa tidak berjualan bakso juga , pak , di Kalimantan ?
Pedagang : Tidak laku , dik , masalahnya . Makanya itu bapak memilih untuk pindah ke Jakarta . Hahaha .
Anton : Oh , gitu yah , pak . Hmm , alamat rumahnya dimana pak ?
Pedagang : Di gang Liam , dik .
Anton : Gang Liam itu di daerah mana yah pak ?
Pedagang : Itu loh , dik . Yang ada ruko Yamaha gede , sebelahnya ada gang kecil rumah saya masuk gang situ .
Anton : Oh , yang ruko Yamaha itu , di daerah jalan panjang bukan pak ?
Pedagang : Iyah , betul sekali , dik .
Anton : Oh , saya tau . Hahaha . Bapak sudah mempunyai istri ?
Pedagang : Ooh , tentu saja sudah , dik .
Anton : Dimana pak istrinya ? Tidak di ajak berjualan ?
Pedagang : Enggak , dik . Istri saya menjaga warung di rumah .
Anton : Oh , bapak dan istri juga membuka usaha lain pak ?
Pedagang : Iya , dik . Kami berdua membuka warung , untuk menambah penghasilan saja . Hehe .
Anton : Oh , begitu yah . Nama istrinya bapak siapa yah ?
Pedagang : Nama istri saya Intan , dik .
Anton : Wah , nama istrinya cantik sekali . Pasti orangnya juga yah , pak ?
Pedagang : Ah , si adik ini bisa saja . Hehehe
Anton : Hehe . Bapak dan istrinya sekarang sudah mempunyai anak ?
Pedagang : Sudah , dik .
Anton : Oh . Berapa banyak , pak , anaknya ?
Pedagang : Anak bapak ada dua , dik .
Anton : Oh , anak bapak ada dua yah . Itu semuanya laki-laki atau dua-duanya perempuan , pak ?
Pedagang : Anak saya dua-duanya perempuan , dik .
Anton : Oh . Anak bapak namanya siapa saja kalau boleh tahu ?
Pedagang : Anak saya yang pertama bernama Irma dan yang namanya kedua Indah , dik .
Anton : Oh , gitu . Kalau yang namanya Irma itu berumur berapa pak ?
Pedagang : Kalau yang namanya Irma sekarang sudah berumur 29 tahun , dik .
Anton : Oh , kalau si Indah , pak ?
Pedagang : Hmm , kalau si Indah sudah berumur 27tahun .
Anton : Tidak ada yang seumuran sama saya yah , pak . hehe
Pedagang : Memang kenapa dik ?
Anton : Tidak apa-apa sih , pak . Siapa tau ada anaknya yang cantik , lumayan pak buat saya . Hehehe
Pedagang : Aduh , si adik ini ada-ada saja .
Anton : Hehehe , jadi malu saya . Itu anak bapak dua-duanya masih bekerja atau sudah menikah semua , pak ?
Pedagang : Hmm , dua-duanya sudah menikah , dik . Sudah tinggal bersama sama suaminya semua .
Anton : Oh . Kenapa bapak masih menjadi tukang bakso ? Kan pasti sudah dikasih uang sama anak-anaknya bapak ?
Pedagang : Yah , dik . Saya tidak mau menerima uang mereka . Lagi pula saya masih bisa dan kuat untuk berdagang bakso . Lagian , uang itu kan di berikan dari suami mereka untuk anak-anak saya . Saya juga tidak mau merepotkan mereka . Hehehe
Anton : Oh , bapak baik sekali yah . Hmm , bapak sudah berjualan bakso sejak kapan , pak ?
Pedagang : Saya sudah berjualan bakso sejak umur 21tahun , dik , untuk membantu ayah saya .
Anton : Oh , usaha bakso ini sudah turun menurun dari ayah bapak yah ?
Pedagang : Iya , dik .
Anton : Oh , begitu . Berarti bapak sudah berjualan bakso selama 30tahun yah , pak . Lumayan lama , yah .
Pedagang : Yah , begitulah dik .
Anton : Hmm , berarti bapak dari 30tahun yang lalu sudah berjualan disini ?
Pedagang : Oh , tidak , dik . Saya dulu membantu ayah berjualan keliling karena beliau tidak kuat mendorong gerobak . Lalu saya yang membantu mendorong gerobak . Tetapi 2 tahun setelah saya menikah , alhamdullilah , ayah saya mendapat tempat untuk berjualan menetap .
Anton : Oh , jadi sudah merasakan bagaimana berjualan menetap dan berkeliling yah , pak .
Pedagang : Sudah dong , dik . Oia , sebentar ya , dik .
Anton : Oke , pak !
( Pak Yanto kedatangan pembeli . Anton pun berhenti bertanya sejenak seraya menunggu pak Yanyo selesai melayani pelanggannya . Tak lama kemudian , pak Yanto sudah selesai , beliau menghampiri Anton . Anton pun langsung bertanya lagi kepadanya )
Anton : Oia ,pak , lebih banyak pendapatan dari berjualan menetap atau berkeliling pak ?
Pedagang : Sama saja lah , dik . Perbedaanya paling hanya sedikit . Kalau berkeliling sedikit lebih banyak . Tetapi tenaga yang dikeluarkan untuk mendorong gerobak juga lebih banyak . Jika berjualan menetap , pendapatannya beda sedikit , tapi tidak terlalu capek , dik .
Anton : Oh , begitu yah , pak . Hahaha . Bapak kenapa memilih menjadi tukang bakso ?
Pedagang : Yah , saya tidak bisa apa-apa lagi , dik . Hanya bisa membuat bakso . Keahlian saya hanya itu . Hehe
Anton : Hmm , penghasilan sehari hari kira - kira berapa yah , pak ?
Pedagang : Yah , kurang lebih setiap harinya 400ribuan .
Anton : Oh . Penghasilan sebesar itu perharinya cukup untuk keperluan sehari-hari bapak ?
Pedagang : Lebih dari cukup lah , dik . Saya juga tidak membutuhkan kebutuhan yang aneh aneh . Hanya untuk makan dan membeli kebutuhan rumah tangga dan bahan bahan membuat bakso .
Anton : Oh . Bapak sekarang rumahya mengontrak atau sudah punya sendiri pak ?
Pedagang : Hmm , punya sendiri , dik . Rumah itu merupakan peninggalan dari ayah saya .
Anton : Oh . Wah , enak dong , pak , sudah mempunyai rumah sendiri .
Pedagang : Hehe, iya dik .
Anton : Ada suka dukanya tidak , pak , selama berjualan bakso ?
Pedagang : Suka duka pasti ada , dik . Yah , paling sukanya bila para pembeli datang terus dan menjadi pelanggan tetap . Itu saja sudah membuat saya senang .
Anton : Oh . Kalau dukanya , pak ?
Pedagang : Paling kalau dukanya , bila bakso yang saya jual tidak habis dan bila para pembeli mengeluh kalau bakso saya kurang enak . Saya merasa sedih akan hal itu .
Anton : Oh , tapi kelihatannya bakso bapak cukup ramai yah . Hahaha
Pedagang : Yah begini lah , dik , kadang ramai , kadang juga sepi tak ada yang membeli . Hahaha .
Anton : Ooh , begitu yah , pak . Hmm , oia pak , saya rasa sudah cukup wawancaranya .
Pedagang : Oh , sudah cukup , dik ? Saya kira masih kurang . Bapak masih bersemangat ini untuk menjawabnya . Hehehe .
Anton : Hahaha , dasar si bapak ini . Terima kasih yah , pak , sudah mau saya wawancara .
Pedagang : Oh , iya , sama-sama , dik .
Anton : Hehe . Selamat siang , pak .
Pedagang : Siang juga , dik ..

No comments:

Post a Comment